Menyandur Tulisan dari: 

Apa itu Psikogram?

“….meaning a composite psychological measurement which attempts to integrate various elements of a person’s thought processes,”[1] According to one source, in this sense, a psychogram denoted “not the sum of elements but their interrelationship” as a way to reduce “complex happenings to a simple design which enables the individual to make the decision. [2] [3]

Ada tiga kata kunci disitu yang menarik yakni :composite psychological measurement, interrelationship, simple design for make decision. Jadi tujuan menyusun suatu psikogram adalah membuat gambaran yang lebih sederhana dan mudah dimengerti atas sejumlah pengukuran psikologis untuk mendapat gambaran seseorang dan lebih lanjut mengambil keputusan atasnya.

Usaha-usaha para ahli untuk membuat psikogram telah di inisiasi sejak awal tahun 1950an. Tertulis dalam buku Marian G Kinget tentang The Drawing Completion Test : Projective Technique for The Investigation yang dipublished tahun 1952.

Meski tidak banyak bahkan jarang sekali para psikolog menggunakan panduan buku tersebut dan menggunakan psikogram untuk menggambarkan hal tersebut, mari kita perhatikan bahwa setiap aspek yang dibahas didalam psikogram di atas dihasilkan atas ekstrasi satu konsep dan teori tentang kepribadian dimana satu aspek dengan aspek lainnya berhubungan bahkan mulai dari proses skoring awalnya, bayangkan proses ini telah dilakukan sejak tahun 1950an.

Selanjutnya adapula psikogram dari alat ukur yang sangat terkenal yakni Rorschach test, alat ini memerlukan psikogram untuk menggambarkan hasilnya kita lihat lembar kerja dan psikogramnya.

 

Dalam contoh psikogram diatas,  hasil skoring menunjukkan  M:FM:m untuk movement itu sudah menggambarkan sesuatu begitu juga F, artinya Test-test projektif yang dianggap lawannya test obyektif sudah mengunakan teknik Psikogram ini dengan tujuan yang sama seperti.

Selanjutnya analisa grafologi dan tulisan tangan pada awal 1960an pun nyatanya sudah menggunakan psikogram untuk menjelaskan hasilnya, Variabel-variabel yang ada juga disusun berdasarkan hubungannya dan berdasarkan satu konsep teori yang sama.

 

Bagaimana dengan Psikogram masa kini?

Yang menjadi pertanyaan apakah contoh-contoh psikogram yang digunakan saat ini masih merupakan composite factor dari pengukuran psikologis, dan disusun berdasarkan suatu konsep dan teori? Jika pada awal-awal sebuah psikogram disusun secara hati-hati berdasarkan konstruk dan konsep tertentu sehingga secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan, bagaimana jika kita mulai mempertanyakan konstruk apa dan konsep teori apa yang bisa menjelaskan psikogram ini, untuk lebih lanjut kita akan bertanya apakah penggambaran kondisi seseorang dalam bentuk psikogram ini cukup sederhana dan dapat dijadikan pengambilan keputusan dibandingkan psikogram yang sejak awal dibuat.

Kedepan, dengan teknik visualisasi data dan disain grafis yang semakin maju dan meningkat, ditunjang dengan era digitalisasi maka ada baiknya psikogram pun dirancang dalam bentuk yang semakin menarik, mudah dipahami dan merefleksikan secara langsung situasi dan kondisi dari hasil tes yang sudah dilakukan.

 Makin kedepan ketiga fungsi yang dibicarakan menjadi hal penting, kemudahan dibaca berdasarkan data empiris untuk menyusunnya, dan dapat dijadikan patokan dalam pengambilan keputusan. Sudah saatnya mengembalikan Psikogram pada fungsi yang sebenarnya dengan mengacu pada prinsip yang sebenarnya. Hindari praktik yang hanya diambil segi praktisnya tanpa memikirkan dampak pada obyektifitas dan pertanggungjawaban ilmiahnya. Ke depan adalah eranya “data driven” dimana “evidence based” menjadi tulang punggung pengambilan keputusan. “Judgement” dan “Intuition” boleh bermain namun janganlah terlalu besar porsinya dalam pengambilan keputusan, karena jika hal itu yang digunakan maka kita akan mundur ke jaman-jaman sebelum ilmu pengetahuan di ke depankan