“Saya akui dia memang sangat pintar,   tapi saya tidak merekomendasikan dia untuk dipromosi, karena ia sangat emosional…”

“Kalau diminta pendapatnya dia pasti bisa memberikan penjelasan yang lengkap, tapi jangan berharap banyak sama dia. Dia tidak akan bergerak kalau tidak dikejar-kejar…”

 

Selama lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di bagian Sumber Daya Manusia, kalimat-kalimat seperti itu sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi saya. Ketika saya dan tim harus memfasilitasi jajaran pimpinan perusahaan untuk mengevaluasi karyawan dan memilih yang layak untuk dipromosi ke posisi yang lebih tinggi, ada saja komentar dari para pimpinan mengenai anak buahnya yang bila ditinjau dari sisi tehnis pekerjaan sangat bisa diandalkan,  namun kedodoran dari sisi non tehnis. Sehingga terlontarlah kalimat-kalimat seperti yang tertera di awal tulisan.  Akhirnya karyawan-karyawan dengan reputasi demikian pun biasanya luput dari promosi.

Sebenarnya apa yang salah pada mereka? Mereka adalah orang yang pandai, juga tergolong mahasiswa berprestasi di masa kuliahnya, tingkat intelegensianya pun -terbukti dari hasil psikotes- dikategorikan jauh diatas rata-rata. Mereka juga merupakan narasumber terpercaya dibagian kerjanya, karena paham sekali seluk beluk pekerjaanya. Bukankah itu semua akan sangat mendukung bila mereka diserahi tanggungjawab untuk memimpin bagiannya? Ternyata kenyataan berkata lain, mereka tidak bisa memperoleh kepercayaan itu.

Inilah bukti nyata dari teori Emotional Intelligence– biasa disebut EQ. Di tahun 1995, dunia ilmu psikologi digemparkan oleh seorang Daniel Goleman, yang memperkenalkan teori ini.  Ia menyodorkan fakta bahwa IQ yang dulu selalu diagung-agungkan sebagai pemeran utama dalam keberhasilan seseorang, ternyata menurut penelitian yang dilakukannya, IQ tidak memberikan banyak pengaruh.  Justru yang lebih berperan  adalah sejauhmana seseorang mampu menata dirinya sendiri, yang merupakan perwujudan dari tingkat EQ-nya.

Menurut Goleman, seseorang dikatakan memiliki tingkat EQ yang baik bila ia mampu mengenali emosi diri, tahu saat-saat mana ia sedang merasa marah, senang, atau kecewa.  Ia pun bisa mengendalikan luapan emosinya, sehingga bisa melontarkan rasa kesal atau  menunjukkan rasa bahagia di saat yang tepat dan pada orang yang tepat pula .

Selanjutnya orang dengan kadar emotional intelligence tinggi ini pun biasanya mampu memotivasi diri sendiri, self-starter, ibarat sebuah kendaraan bermotor dengan aki yang tokcer, begitu distarter bisa langsung menyala tanpa perlu didorong-dorong.  Jadi tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya akan dituntaskannya tanpa perlu pengawasan melekat dari atasan.

Orang dengan EQ tinggi ini juga mampu ber-empathy, bisa mengerti ketika lawan bicaranya sedang gundah gulana, sehingga pembicaraan pun diatur untuk bisa menyenangkan. Pada akhirnya komunikasi yang terjalin pun menjadi harmonis.

Di dunia kerja, setiap orang dituntut untuk mampu bekerjasama dengan banyak pihak. Tidak hanya dengan atasan maupun dengan rekan kerja saja, dengan anak buahnya pun ia harus bisa menjalin hubungan dengan baik. Sehingga untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil ia harus merupakan sosok yang  mampu mengarahkan dan mengajak semua orang untuk mau bekerjasama bahu membahu mencapai target yang telah ditetapkan.  Jadi bukan seorang yang hanya paham tehnis belaka,  bisa menganalisa suatu permasalahan dan memberikan solusi, namun tidak mampu mengajak orang lain untuk menjalankan gagasan yang dilontarkannya. .

Menilik kasus karyawan-karyawan yang pintar namun luput dipromosi tadi, ternyata banyak sekali rekaman peristiwa tentang masalah yang timbul hanya karena kegagalan mereka dalam mengelola emosi.  Ada seorang Senior Staff yang sangat cerdas namun mudah sekali mengumbar emosi sehingga beken sebagai trouble maker dalam rapat-rapat koordinasi. Ada pula Officer pintar yang setiap saat perlu di-charge terlebih dahulu baru bisa melesat. Berikutnya, ada seorang Analyst cerdas sebenarnya bisa dengan tajam mengupas suatu permasalahan,  namun ternyata lebih sering menarik diri ketika ada yang berargumen padanya. Ia tidak pernah berkutik bila ada yang meragukan ide-idenya.

Buruknya catatan sejarah mereka inilah yang membuat manajemen menjadi alergi untuk mengangkat mereka menjadi pimpinan. Berdasarkan kenyataan di lapangan memang terbukti sudah bahwa beberapa pimpinan yang memiliki kadar EQ  lemah, ternyata tidak mampu berperan sebagai pimpinan sebagaimana yang diharapkan.

Pernah ada satu proyek yang cukup strategis untuk perbaikan sistem di perusahaan, namun  baru rampung beberapa bulan dari  deadline yang ditetapkan. Pimpinan proyek ini ternyata seorang yang memang dikenal ’lamban’, yang hanya bergerak setelah dipencet terlebih dahulu.

Kasus lain, karyawan di satu bagian terkenal sulit diajak kerjasama, bahkan melimpahkan resiko ke bagian lain. Ternyata ulah mereka dipicu oleh sikap pimpinannya yang tidak mau mendengar anak buah dan hanya mau  menang sendiri saja, parahnya lagi ia pun sangat mudah tersulut emosi. Anak buah mana yang tahan dengan sikap boss demikian, untuk amannya maka mereka pun mengalihkan resiko ke pihak lain. Jelas saja ini sangat mengganggu pihak lain yang bekerjasama dengan mereka.

Manajemen perusahaan tampaknya tidak mau mengulang kesalahan, mengangkat orang yang EQ rendah untuk jadi pimpinan. Maka yang dipromosi pun adalah orang-orang pilihan yang sudah memiliki reputas baik di perusahaan. Walaupun tingkat kecerdasan mereka tidak jauh dari rata-rata namun berkat ketekuannya mereka mampu menjadi ahli di bagiannya.  mereka pun sangat handal dalam meng-handle masalah dengan pihak lain tanpa ada yang merasa dirugikan.

Ternyata memang pintar saja tidak cukup. Orang pintar akan lebih berhasil bila dibarengi dengan kepiawaian mereka mengelola emosi diri dan menunjukkan keterbukaan untuk memahami kondisi orang-orang di sekitarnya, sehingga orang lain pun akan dengan senang hati bekerjasama dengannya.

Leave a Reply