Dalam dunia psikologi istilah analisis blindcase  secara umum bisa diartikan sebagai suatu kegiatan pemeriksaan psikologi yang dilakukan tanpa bertemu dengan individu yang dievaluasi. Hal ini cukup jamak dilakukan. Meskipun dalam menjalankan tugas untuk menganalisis individu, seorang psikolog selayaknya melakukan pemeriksaan yang meliputi paper & pencil test, yang dilengkapi pula dengan wawancara. Akan tetapi seiring dengan tuntutan kepraktisan dan kebutuhan akan kecepatan hasil evaluasi, khususnya untuk pelaksanaan pemeriksaan psikologi dengan jumlah peserta yang cukup banyak, maka pemeriksaan lebih ditekankan pada proses yang bisa dilakukan secara klasikal dengan pemangkasan pada tahap pemeriksaan yang dinilai memakan waktu dan hanya bisa dilakukan secara individual. Salah satu diantaranya adalah proses wawancara.

Dengan dihilangkannya proses wawancara, maka psikolog harus melakukan interpretasi dengan memanfaatkan data di atas kertas saja, tanpa melakukan tatap muka dengan individu yang dievaluasi. Padahal dalam menganalisis seseorang, tatap muka dan wawancara dengan individu akan sangat membantu untuk mendapatkan gambaran awal dari individu tersebut, yang akan diujisilang dengan hasil tes lainnya. Maka dengan ketiadaan tahapan ini, diperlukan suatu kiat khusus guna menjaga akurasi hasil pemeriksanaan psikologi secara blindcase.

Berdasarkan pengalaman kami mengelola kegiatan evaluasi psikologi secara blindcase, dapat disimpulkan bahwa perlu kehati-hatian dan kepatuhan pada tata cara di setiap tahapan pemeriksaan guna menjamin ketersediaan data yang layak. Perlu dicermati dengan seksama mulai dari tahap administrasi pelaksanaan paper & paper test, observasi yang ketat dan pencatatan yang rinci terhadap perilaku-perilaku khas yang muncul dari individu selama pemeriksaan berlangsung. Selanjutnya akurasi dalam skoring hasil perlu dilakukan secara cermat.

Sementara itu untuk psikolog yang bertugas menganalisa juga perlu dipilih dengan seksama.  Tidak dapat dipungkiri bahwa  jam terbang akan sangat berpengaruh pada penghayatan dan ketajaman dalam menyimpulkan data dan informasi blindcase. Dengan demikian, ketika kami menyelenggarakan evaluasi blindcase untuk 600 orang, dengan tenggat waktu 6 minggu kerja, maka kami memberlakukan pemilihan tenaga evaluator dengan ketat, diutamakan yang sudah berpengalaman minimal 3 tahun. Terbukti dengan kekayaan pengalaman, maka hasil analisis menjadi lebih tajam.

Ketajaman analisis tidak hanya untuk memuaskan pihak perusahaan yang menerima hasil kerja, tetapi yang terpenting adalah demi kebutuhan individu yang dievaluasi, karena ini akan menentukan tindaklanjut program pengembangan bagi dirinya untuk dapat mengemban tugas dengan baik di perusahaan.

Leave a Reply