Menyandur Tulisan dari: Kompasiana.com

 

Cinta lokasi alias "cinlok" terasa akrab dalam keseharian kita lantaran tak sedikit orang yang mengalaminya. Jika Anda sedang mengalami "cinlok", mungkin Anda bertanya-tanya: akankah hal ini bertahan? Simak pendapat para psikolog.

"Lagi-lagi, artis A terlibat cinta lokasi. Kali ini, ia menjalin cinta dengan artis B, yang sedang menjadi lawan mainnya."

Itulah sekelumit isi acara infotainment yang saban hari berseliweran di televisi. Syuting sinetron stripping yang tayang setiap hari tak ayal membuat para artisnya berada di satu lokasi yang sama dalam waktu cukup lama, sehingga lumrah jika benih-benih cinta muncul. Cinta lokasi tak hanya monopoli selebriti. Bagi sebagian besar kita yang kesehariannya dihabiskan di tempat kerja, profesi kita pun sama rentannya terhadap "cinlok", karena disana ada kesempatan untuk berinteraksi secara intens, baik dengan rekan kerja, pimpinan, atau bawahan.

Ardiningtyas Pitaloka, M.Si., Psi., staf pengajar Fakultas Psikologi Universitas YARSI, mengemukakan bahwa fenomena cinta lokasi wajar terjadi, sewajar kisah roman anak SMA dalam satu sekolah. "Dalam teori psikologi, rasa cinta, suka, atau ketertarikan pada orang lain memang dapat tumbuh karena adanya kedekatan, misalnya sering bertemu dalam satu lokasi," ujar psikolog yang akrab disapa Tyas ini. Cinta lokasi seperti di kantor dapat terjadi karena salah satu faktor seperti seringnya berinteraksi, namun juga perpaduan beberapa alasan orang jatuh cinta seperti yang disebutkan tadi," kata Tyas.

Secara senada, Utami Widyanti, S.Psi., Psikolog, dari Catalyst Psychology & HR Management Services, menilai bahwa cinta lokasi bermula dari kebersamaan dan keakraban dalam satu situasi. Tentunya, hal itu terjadi karena seringnya meluangkan waktu bersama karena merasa nyaman dan akrab. "Seperti kata para ahli, cinta bisa muncul dimana saja, kapan saja. Bermula dari kedekatan, kemudian menjadi akrab dan menimbulkan daya tarik," papar psikolog yang akrab disapa Ami ini. "Ini merupakan fenomena yang umum, bahwa semakin sering bersama, semakin banyak menemui kesamaan terhadap berbagai hal, maka semakin kuat daya tarik diantara dua pihak tersebut," ujar Ami.

Menurutnya, rasa suka, tertarik pada lawan jenis, atau cinta bersifat universal, tidak memandang tipe pribadi atau karakter, status sosial dan hal lain. "Semua orang bisa merasakan hal ini, yang membedakan adalah respons dari masing-masing orang tersebut, ada yang secara terbuka mampu mengekspresikan perasaan ada yang memilih untuk dipendam," tandas Ami.

Lantas, bagaimana "cinlok" berpotensi menjadi masalah?

Tyas menjelaskan, cinta merupakan afeksi manusiawi yang bisa dikatakan paling menguras emosi baik positif maupun emosi negatif. Nah, luapan emosi inilah yang dikhawatirkan akan memengaruhi objektivitas yang dituntut dalam dunia kerja atau profesional. "Ini karena saat seseorang jatuh cinta, ia bisa menjadi penuh energi dan secara sadar maupun tidak akan memacu diri untuk melakukan hal yang terbaik. Fenomena ini sebenarnya salah satu imbas positif dari jatuh cinta yang bertujuan untuk meningkatkan nilai diri," ungkap Tyas. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri, jatuh cinta juga mendorong seseorang menjadi lebih sensitif. Ada keinginan untuk sesering mungkin bersama si dia yang sedang menjadi bintang hati. Ketika bersama pujaan, maka kebahagiaan, rasa optimis, juga penilaian terhadap diri sendiri (self-esteem) pun meningkat.

"Namun, pada saat yang sama, situasi kantor menuntut interaksi yang egaliter diantara rekan kerja. Artinya, 'dilarang' ada kecemburuan, kecurigaan, atau memilih rekan kerja tertentu karena alasan cinta," Tyas mengingatkan.

Situasi seperti inilah yang hendak dicegah atau diantisipasi oleh pihak kantor. Tak jarang, atasan atau bos cukup dag-dig-dug saat mengetahui ada anak buahnya yang terlibat cinta lokasi, terlebih jika keduanya adalah karyawan potensial. Menyoal "nilai" atau kadar sebuah cinta lokasi, Ami mengungkapkan bahwa rasa cinta berawal dari daya tarik terhadap pasangan yang tumbuh menjadi rasa ingin memiliki, ingin selalu bersama, ada rasa khawatir, dan lain-lain. Karena itu, kekuatan cinta memang perlu diuji.

"Munculnya rasa cinta bisa dimana saja, termasuk ketika pasangan sedang bersama-sama di dalam satu kegiatan, atau yang disebut cinta lokasi. Pertanyaannya kemudian: apakah cinta lokasi menjamin sebuah hubungan yang langgeng dan layak dipertahankan?" sanggah Ami. "Langgeng atau tidaknya suatu hubungan tidak didasari oleh dari mana lokasi daya tarik dan cinta itu berasal, tetapi melalui proses yang disebut social penetration, teori dari pakar psikologi Irwin Altman dan Dalmas Taylor," lanjutnya. Social penetration, jelas Ami, akan mengubah perasaan saling suka menjadi tingkat keakraban dan keintiman yang lebih tinggi. Disinilah setiap pasangan akan semakin melibatkan pasangannya dalam aspek kehidupan yang lebih luas, saling mengenal lebih jauh, dan berbagi mengenai hal yang bersifat lebih personal atau pribadi.

Karena itu, ketika tidak ada keterbukaan dan timbal balik yang terjadi, maka dimana pun rasa cinta tersebut tumbuh, ia tidak akan bertahan lama. Menurut Ami, sebuah penelitian menyebutkan bahwa kebanyakan pasangan yang telah bersama-sama selama kurang lebih 8 bulan umumnya telah mengungkapkan diri tentang hal-hal yang sifatnya pribadi.

Jadi, mungkin saja waktu 8 bulan dapat dijadikan sebagai salah satu parameter apakah suatu hubungan bisa berlanjut atau langgeng, atau justru sebaliknya, tidak berlanjut. Namun, tentu saja hal ini tidak selalu berlaku secara umum pada semua orang. "Tantangan cinta lokasi, seperti tadi sudah disampaikan, adalah intensitas kebersamaan yang memunculkan daya tarik dan berkembang menjadi cinta," tegas Ami. "Oleh karena itu, tantangan dari cinta lokasi adalah minimnya intensitas kebersamaan seiring dengan berakhirnya kerja sama atau kebersamaan di suatu tempat, situasi, ataupun lokasi tersebut," paparnya lagi.

Jika diantara kedua belah pihak tidak ada upaya untuk membawa atau membangun hubungan tersebut ke tingkat yang lebih tinggi, maka "cinlok" tersebut pun sekedar menjadi "cinlok".